28 Oktober 2012

MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM KONTEKS PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Aplikasi manajemen mutu terpadu dalam dunia industri telah lama dilakukan dengan hasil yang memuaskan dalam meningkatkan mutu produksi untuk memuaskan pelanggan. Industri yang menerapkan manajemen mutu terpadu memiliki kemampuan daya saing yang tinggi dalam mengusai pasar.
Dalam perkembangan lebih lanjut, manajemen mutu terpadu telah mulai diterapkan di dunia pendidikan oleh berbagai institusi pendidikan. Hasilnya juga mengembirakan , yaitu institusi pendidikan yang menerapkan manajemen mutu terpadu cenderung unggul dalam bersaing untuk meninggakatkan mutu pendidikan dalam memuaskan pelanggan. Namun aplikasi manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan belum memasyarakat seperti halnya di dunia industri, apalagi masyarakat awam pada umumnya belum tau banyak mengetahui tentang manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan.
Dewasa ini perkembangan pemikiran manajemen sekolah mengarah pada sistem manajemen yang disebut MMT (Manajemen Mutu Terpadu). Pada prinsipnya sistem manajemen ini adalah pengawasan menyeluruh dari seluruh anggota organisasi (warga sekolah) terhadap kegiatan sekolah. Penerapan MMT berarti semua warga sekolah bertanggung jawab atas kualitas pendidikan.
Sebelum hal itu tercapai, maka semua pihak yang terlibat dalam proses akademis, mulai dari komite sekolah, kepala sekolah, kepala tata usaha, guru, siswa sampai dengan karyawan harus benar–benar mengerti hakekat dan tujuan pendidikan ini. Dengan kata lain, setiap individu yang terlibat harus memahami apa tujuan penyelenggaraan pendidikan. Tanpa pemahaman yang menyeluruh dari individu yang terlibat, tidak mungkin akan diterapkan MMT.
Dalam ajaran MMT, lembaga pendidikan (sekolah) harus menempatkan siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan sebagai stakeholders yang terbesar, maka suara siswa harus disertakan dalam setiap pengambilan keputusan strategis langkah organisasi sekolah. Tanpa suasana yang demokratis manajemen tidak mampu menerapkan MMT, yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihak–pihak tertentu yang seringkali memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan hakekat pendidikan (Adnan Sandy Setiawan : 2000),
Penerapan MMT berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat. Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa dengan guru, antara siswa dengan kepala sekolah, antara guru dan kepala sekolah, singkatnya adalah kebebasan berpendapat dan keterbukaan antara seluruh warga sekolah. Pentransferan ilmu tidak lagi bersifat one way communication (komonikasi satu arah) , melainkan two way communication. Ini berkaitan dengan budaya akademis.
Selain kebebasan berpendapat juga harus ada kebebasan informasi. Harus ada informasi yang jelas mengenai arah organisasi sekolah, baik secara internal organisasi maupun secara nasional. Secara internal, manajemen harus menyediakan informasi seluas- luasnya bagi warga sekolah. Termasuk dalam hal arah organisasi adalah progran – program, serta kondisi finansial.
Singkatnya, MMT adalah sistem menajemen yang menjunjung tinggi efisiensi. Sistem manajemen ini sangat meminimalkan proses birokrasi. Sistem sekolah yang birokratis akan menghambat potensi perkembangan sekolah itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang ingin penulis kupas dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) ?
2. Apa yang menjadi kesulitan implementasi MMT di bidang Pendidikan ?
3. Apa yang menjadi indikator keberhasilan implementasi MMT di bidang pendidikan ?
C. Tujuan Penulisan
Dari permasalahan yang penulis pilih, penulis mempunyai tujuan :
1. Menjelaskan pengertian Manajemen Mutu Terpadu (MMT).
2. Menjelaskan kesulitan–kesulitan implementasi MMT di bidang pendidikan.
3. Mengidentifikasi indikator – indikator keberhasilan implementasi MMT di bidang pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam era kemandirian sekolah dan era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), tugas dan tanggung jawab yang pertama dan yang utama dari pimpinan sekolah adalah menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif, dalam arti menjadi semakin bermanfaat bagi sekolah itu sendiri dan bagi masyarakat luas penggunanya Agar tugas dan tanggung jawab para pemimpin sekolah tersebut menjadi nyata, kiranya kepala sekolah perlu memahami, mendalami dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen yang dewasa ini telah dikembangkan/imekarkan oleh pemikir–pemikir dalam dunia bisnis. Salah satu ilmu manajemen yang dewasa ini banyak diadopsi adalah MMT (Manajemen Mutu Terpadu) .
A. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu (MMT)
Manajemen Mutu Terpadu sangat populer di lingkungan organisasi profit, khususnya di lingkungan berbagi badan usaha/perusahaan dan industri, yang telah terbukti keberhasilannya dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya masing–masing dalam kondisi bisnis yang kompetitif. Kondisi seperti ini telah mendorong berbagai pihak untuk mempraktekannya di lingkungan organisasi non profit termasuk di lingkungan lembaga pendidikan.
Dalam pemahaman umum tentang manajemen mutu pendidikan seperti yang dirumuskan oleh kementerian pendidikan nasional, bahwa, manajemen peningkatan mutu adalah sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada kepala sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, peserta didik, kepala sekolah, Karyawan, orang tua peserta didik, dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan nasional (Suparno Eko Widodo, 2011: 14).
Menurut Deni Koswara manajement mutu terpadu adalah sebuah konsep yang mengaplikasikan sebagai prinsip mutu untuk menjamin suatu produk barang /jasa memiliki spesifikasi mutu sebagaimana ditetapkan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pendekatan manajemen mutu dilakukan secara menyeluruh yaitu mulai dari input, proses, output, dan outcome. Dilakukan secara berkelanjutan menunjukkan bahwa upaya mewujudkan mutu merupakan bagian kerja keseharian, bukan sesuatu yang bersifat temporal (sewaktu-waktu). Dalam kontek outcome (dampak) dikenal dengan istilah layanan purna jual ini terkait dengan keterlibatan alumni dalam pengelolaan dan pengembangan sekolah. Semua komponen system organisasi diposisikan sebagai bagian untuk menjamin mutu dan disenergikan melalui kepemimpinan mutu (2010: 295).
Menurut Hadari Nawari Manajemen Mutu Terpadu adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus difokuskan pada peningkatan kualitas, agar produknya sesuai dengan standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat (community development). Konsepnya bertolak dari manajemen sebagai proses atau rangkaian kegiatan mengintegrasikan sumber daya yang dimiliki, yang harus diintegrasi pula dengan pentahapan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen, agar terwujud kerja sebagai kegiatan memproduksi sesuai yang berkualitas. Setiap pekerjaan dalam manajemen mutu terpadu harus dilakukan melalui tahapan perencanaan, persiapan (termasuk bahan dan alat), pelaksanaan teknis dengan metode kerja/cara kerja yang efektif dan efisien, untuk menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat (2005:46).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, Hadari Nawawi mengemukakan tentang karakteristik MMT sebagai berikut :
1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal
2. Memiliki opsesi yang tinggi terhadap kualitas
3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
4. Memiliki komitmen jangka panjang.
5. Membutuhkan kerjasama tim
6. Memperbaiki proses secara kesinambungan
7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
8. Memberikan kebebasan yang terkendali
9. Memiliki kesatuan yang terkendali
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan (2005 : 127).
B. Manajemen Mutu Terpadu dalam Bidang Pendidikan
Di lingkungan organisasi non profit, khususnya pendidikan, penetapan kualitas produk dan kualitas proses untuk mewujudkannya, merupakan bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Kesulitan ini disebabkan oleh karena ukuran produktivitasnya tidak sekedar bersifat kuantitatif, misalnya hanya dari jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang berhasil dibangun, tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut manfaat dan kemampuan memanfaatkannya.
Demikian juga jumlah lulusan yang dapat diukur secara kuantitatif, sedang kualitasnya sulit untuk ditetapkan kualifikasinya. Sehubungan dengan itu di lingkungan organisasi bidang pendidikan yang bersifat non profit, menurut Hadari Nawari (2005: 47) ukuran produktivitas organisasi bidang pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Produktivitas Internal, berupa hasil yang dapat diukur secara kuantitatif, seperti jumlah atau prosentase lulusan sekolah, atau jumlah gedung dan lokal yang dibangun sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
2. Produktivitas Eksternal, berupa hasil yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena bersifat kualitatif yang hanya dapat diketahui setelah melewati tenggang waktu tertentu yang cukup lama.
Lulusan sebagai output sekolah dipandang sebagai suatu system dalam manajemen mutu pendidikan. Output dalam arti keluaran mencerminkan daya serap yang di capai dalam suatu sekolah berdasarkan tingkat pembeda sekolah satu dengan yang lain. Mutu lulusan menurut Immegart, dirumuskan dalam bentuk kepentingan yaitu (1) sinergi dengan rumusan tujuan, kepentingan pimpinan sekolah, eksekutif, pendukung dan petugas sekolah, dan (2) sinergi dengan kepentingan rumusan pelanggan sekolah (Suparno Eko Widodo, 2011: 12).
Mutu lulusan tidak dapat dipisahkan dari alur siklus mulai contect, input, proses, output, dan outcame. Untuk itu mutu lulusan yang sesuai dengan keinginan pelanggan pendidikan adalah output yang mempunyai kriteria sebai outcome yaitu dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dan dapat bekerja. Dalam dunia pendidikan, dipahami, bahwa pendidikan dapat dikatakan relevan apabila peserta didik dapat didaftar dari apa yang diketahui dan bagaiman dapat bekerja. Dengan demikian kepala sekolah diharapkan mampu menata program sekolah yang dapat mempertemukan keinginan masyarakat dan kebutuhan peserta didik. Peserata didik diharapkan mampu menampilkan tingkat kemampuan tertentu yang dikuasainya, dan dimana guru dapat mengukur dan mengesahkannya. Dengan demikian guru akan mampu berperan positif dengan perbaikan berkelanjutan dalam system pembelajaran.
Sekolah yang memiliki kriteria baik adalah sekolah yang mampu menghasilkan sedikit lulusan yang tidak siap pakai, sedikit yang tidak lulus dan banyak lulusan melanjutkan pendiikan ke jenjang pendidikan terpilih yang lebih tinggi. Banyak fakta di lapangan yang mengindikasikan, bahwa peserta didik kurang mengusai ilmu yang dipelajari, tidak mampu berfikir kritis dan tidak mampuberbuat dalam kehidapan atau pekerjaan, dan tidak mampu beradaptasi engan lingkungannya. Sudah menjadi keharusan bagi kepala sekolah untuk selalu siap menyikapi perubahan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat global (Suparno Eko Widodo, 2011: 13).
menurut Hadari Nawawi bagi organisasi pendidikan, adaptasi manajemen mutu terpadu dapat dikatakan sukses, jika menunjukkan gejala – gejala sebagai berikut :
1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat.
2. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
3. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat
4. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab – sebabnya.
5. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
6. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
7. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat (2005 : 47).
Berkenaan dengan kualitas dalam pengimplementasian MMT, Wayne F. Cassio dalam bukunya Hadari Nawawi mengatakan : “Quality is the extent to which product and service conform to customer requirement” (Mutu adalah tingkat produk dan jasa yang menyesuaikan diri terhadap kebutuhan pelanggan). Di samping itu Cassio juga mengutip pengertian kualitas dari The Federal Quality Institute yang menyatakan “quality as meeting the customer’s requiremet the first time and every time, where costumers can be internal as wellas external to the organization”. Senada dengan itu Goetsh dan Davis seperti yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana mengatakan : “kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.
Dilihat dari pengertian kualitas yang terakhir seperti tersebut di atas, berarti kualitas di lingkungan organisasi profit ditentukan oleh pihak luar di luar organisasi yang disebut konsumen, yang selain berbeda–beda, juga selalu berubah dan berkembang secara dinamis.
Manajemen Mutu Terpadu di lingkungan suatu organisasi non profit termasuk pendidikan tidak mungkin diwujudkan jika tidak didukung dengan tersedianya sumber–sumber untuk mewujudkan kualitas proses dan hasil yang akan dicapai. Di lingkungan organisasi yang kondisinyan sehat, terdapat berbagai sumber kualitas yang dapat mendukung pengimplementasian MMT secara maksimal.
Menurut Hadari Nawawi beberapa di antara sumber – sumber kualitas tersebut adalah sebagai berikut :
1. Komitmen Pucuk Pimpinan (Kepala Sekolah) terhadap kualitas.
Komitmen ini sangat penting karena berpengaruh langsung pada setiap pembuatan keputusan dan kebijakan, pemilihan dan pelaksanaan program dan proyek, pemberdayaan SDM, dan pelaksanaan kontrol. Tanpa komitmen ini tidak mungkin diciptakan dan dikembangkan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen yang berorentasi pada kualitas produk dan pelayanan umum.
2. Sistem Informasi Manajemen
Sumber ini sangat penting karena usaha mengimplementasikan semua fungsi manajemen yang berkualitas, sangat tergantung pada ketersediaan informasi dan data yang akurat, cukup/lengkap dan terjamin kekiniannya sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pokok organiasi.
3. Sumberdaya manusia yang potensial
SDM di lingkungan sekolah sebagai aset bersifat kuantitatif dalam arti dapat dihitung jumlahnya. Disamping itu SDM juga merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi (sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. Kualitas pelaksanaan tugas pokok sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM, baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensial dan dapat dikembangkan.
4. Keterlibatan semua Fungsi
Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber kualitas, sama pentingnya satu dengan yang lainnnya, yang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara maksimal, sehingga saling menunjang satu dengan yang lainnya.
5. Filsafat Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan
Sumber–sumber kualitas yang ada bersifat sangat mendasar, karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan (kepala sekolah), yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan, atau dapat memohon untuk dipindahkan. Sehubungan dengan itu, realiasi MMT tidak boleh digantungkan pada individu kepala sekolah sebagai sumber kualitas, karena sikap dan perilaku individu terhadap kualitas dapat berbeda. Dengan kata lain sumber kualitas ini harus ditransformasikan pada filsafat kualitas yang berkesinambungan dalam merealisasikan MMT (2005 : 138 – 141).
Semua sumber kualitas di lingkungan organisasi pendidikan dapat dilihat manifestasinya melalui dimensi–dimensi kualitas yang harus direalisasikan oleh pucuk pimpinan bekerja sama dengan warga sekolah yang ada dalam lingkungan tersebut. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 141), dimensi kualitas yang dimaksud adalah :
1. Dimensi Kerja Organisasi
Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja yang positif, merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagunakan sumber – sumber kualitas, yang berdampak pada keberhasilan mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi (sekolah).
2. Iklim Kerja
Penggunaan sumber – sumber kualitas secara intensif akan menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan organisasi. Di dalam iklim kerja yang diwarnai kebersamaan akan terwujud kerjasama yang efektif melalui kerja di dalam tim kerja, yang saling menghargai dan menghormati pendapat, kreativitas, inisiatif dan inovasi untuk selalu meningkatkan kualitas.
3. Nilai Tambah
Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara efektif dan efisien akan memberikan nilai tambah atau keistimewaan tambahan sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai oleh organisasi. Nilai tambah ini secara kongkrit terlihat pada rasa puas dan berkurang atau hilangnya keluhan pihak yang dilayani (siswa).
4. Kesesuaian dengan Spesifikasi
Pendayagunaan sumber–sumber kualitas secara efektif dan efisien bermanifestasi pada kemampuan personil untuk menyesuaikan proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karakteristik operasional dan standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang disepakati.
5. Kualitas Pelayanan dan Daya Tahan Hasil Pembangunan
Dampak lain yang dapat diamati dari pendayagunaan sumber–sumber kualitas yang efektif dan efisien terlihat pada peningkatan kualitas dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada siswa.
6. Persepsi Masyarakat
Pendayagunaan sumber–sumber kualitas yang sukses di lingkungan organisasi pendidikan dapat diketahui dari persepsi masyarakat (brand image) dalam bentuk citra dan reputasi yang positif mengenai kualitas lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi ataupun oleh dunia kerja.
Secara singkat dapat digambarkan diagram komitmen kualitas dalam Manajemen Mutu Terpadu adalah sebagai berikut :

Diagram : Komitmen Kualitas dalam MMT
Manajemen Mutu Terpadu (MMT) dalam bidang pendidikan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas, daya saing bagi output (lulusan) dengan indikator adanya kompetensi baik intelektual maupun skill serta kompetensi sosial siswa/lulusan yang tinggi. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi MMT di dalam organisasi pendidikan (sekolah) perlu dilakukan dengan sebenarnya tidak dengan setengah hati. Dengan memanfaatkan semua entitas kualitas yang ada dalam organisasi maka pendidikan kita tidak akan jalan di tempat seperti saat ini. Kualitas pendidikan kita berada pada urutan 113 dari 117 negara di dunia.data ini diperoleh sesuai hasil survei tentang human development index (HDI) oleh united nation development program (UNDP) (Nurhayati & Abd hadis, 2010: 2).
Merosotnya mutu pendidikan di indonesia secara umum dapat di sebabkan buruknya sistem pendidikan nasional dan rendahnya SDM. Rendahnya sumberdaya manusia berdasarkan hasil survei UNDP tersebut adalah akibat rendahnya mutu pendidikan diberbagai jenis dan jenjang pendidikan, karena itu salah satu kebijakan pokok pembangunan pendidikan nasional ialah meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Dalam perspektif makro banyak faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, diantaranya faktor kurikulum, kebijakan pendiikan, fasilitas pendidikan, aplikasi teknologi informasi dan komonikasi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar di kelas, di laboratorium, dan di kancah belajar lainnya melalui fasiulitas internet, aplikasi metode, stategi, dan pendekatatan pendiikan yang mutakhir dan m modern, metode pendidikan yang tepat, biaya pendidikan yang memadai, manajemen yang pendidikan yang di laksanakan secara professional, sumberdaya manusia para pelaku pendidikan yang terlatih, berpengetahuan, pengalamandan professional. Juga sangat penting adanya standar nasional dalam pendidikan yang menjadi norma acuan dalam penyelenggaraan/pelaksanaan pendidikan nasional. Dalam persepektif mikro atau tinjauan secara sempit dan khusus, faktor dominan yang berpengaruh dan berkontribusi besar terhadp mutu pendidikn ialah guru yang professional dan guru yang sejahtera. Oleh karena itu guru sebagai suatu profesi harus professional dalam melaksanakan berbagai tugas pedidikan dan pengajaran, pembimbingan dan pelatihanyang diamanahkan kepadanya (, 2010: 4).
Implementasi MMT di organisasi Pendidikan memang tidak mudah. Adanya hambatan dalam budaya kerja, unjuk kerja dari guru dan karyawan sangat mempengaruhi. Tidak perlu dipungkiri bahwa budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin Guru di negara kita ini sangat rendah. Ini sangat mempengaruhi efektifitas implementasi MMT.
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang telah mengadopsi prinsip – prinsip MMT ternyata tidak serta merta mendongkrak peningkatan kinerja pelaksana sekolah yang implikasinya dapat meningkatkan kompetensi siswa kita.
Menurut penulis, yang paling pertama diperbaiki adalah budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin dari pelaksana sekolah (guru, karyawan dan kepala sekolah). Semuanya harus dapat memandang siswa sebagai pelanggan yang harus dilayani dengan sebaik – baiknya demi kepuasan mereka. Pelaksana sekolah selalu bersemangat untuk maju, bersemangat terus untuk menambah kemampuan dan ketrampilannya yang pada akhirnya akan meningkatkan unjuk kerja mereka di hadapan siswa. Apabila semua pelaksana sekolah sudah mempunyai budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin yang tinggi, maka implementasi MMT dapat secara nyata berjalan dan akan menjadikan organisasi pendidikan (sekolah) akan semakin maju, eksis, memiliki brand image yang semakin tinggi dan pada akhirnya dapat menciptakan kader – kader bangsa yang berkualitas dan dapat disejajarkan dengan bangsa lain.
Rendahnya budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin kerja pelaksana sekolah (Guru) memang sangat dipengaruhi oleh sistem penghargaan negara (gaji) yang rendah terhadap guru. Ini menyebabkan tidak sedikit kewajiban di organisasi pendidikan khususnya menjadi “sambilan” bagi guru dan justru yang utama berada di kegiatan luar organisasi karena adanya tuntutan ekonomi yang semakin berat.
Angin segar telah berhembus bagi guru khususnya, dengan telah adanya UU Guru dan Dosen yang menjadi payung hukum dan menjamin peningkatan kesejahteraan Guru dan Dosen. Tetapi masih menjadi pertanyaan besar “kapan itu dilaksanakan?”, atau “ hanya meninabobokkan guru saja agar tidak berdemo?”.
Apabila UU tersebut benar dilaksanakan, apakah akan benar–benar dapat meningkatkan kinerja guru?
Pada intinya, implementasi MMT di organisasi pendidikan khususnya sekolah masih akan terasa berat. Diperlukan adanya kesungguhan dari warga sekolah secara bersama, sadar, dan berkeinginan yang kuat untuk maju.
BAB III
KESIMPULAN
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan :
1. Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah suatu sistem manajemen yang mendayagunakan sumber–sumber kualitas yang ada dalam organisasi melalui tahapan–tahapan manajemen secara terkendali untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada pelanggan secara efektif dan efisien.
2. Kesulitan penerapan MMT dalam bidang pendidikan adalah kesulitan dalam penentuan kualitas produknya (lulusan) yang lebih bersifat kualitatif.
3. Implementasi MMT di bidang pendidikan dikatakan berhasil jika dapat ditemukan ciri – ciri sebagai berikut :
a. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat.
b. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
c. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat
d. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab–sebabnya.
e. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
f. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
g. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen Adminitrasi Pendidikan UPI. 2010, Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfa Beta.
Eko Widodo, Suprno 2011, Manajemen Mutu Pendidikan. Jakarta: PT Ardadizya Jaya.
Nurhayati & Abd Hadis. 2010, Manajemen mutu pendidikan. Bandung: Alfa Beta.
Hadari Nawawi . 2005, Manajemen Strategik, Gadjah Mada Pers :Yogyakarta
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana. 1998, Manajemen Mutu Terpadu (MMT), Yogyakarta Andi Offset
Adnan Sandy Setiawan (200); “Manajemen Perguruan Tinggi Di Tengah Perekonomian Pasar dan Pendidikan Yang Demokratis, “Indonews (s)”indonews@indo-news.com. 09 April 2012
Ani M. Hasan.2003, “Pengembangan Profesional Guru di Abad Pengetahuan Pendidikan. Network : 09 April 2012
Frietz R Tambunan. 2004, Mega Tragedi Pendidikan Nasional, Kompas : 09 April 2012
Thomas B. Santoso. 2001, Manajemen Sekolah di Masa Kini. Pendidikan Network : 09 April 2012

0 komentar:

Poskan Komentar